Rabu, 19 November 2008

MENGAPA MANUSIA HARUS DIDIDIK

1. HAKEKAT MANUSIA

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk monodualistis. Artinya adalah manusia yang nampaknya satu sebenarnya terdiri dari dua unsur yaitu unsur jiwa dan unsur raga. Disebut monodualis karena dua unsur tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebutan manusia tetap diberikan selama kedua unsur tersebut belum berpisah, artinya jiwa tetap ada dalam raga dan raga tetap ada dalam jiwa. Dalam kehidupannya sejak lahir kedunia,kedua unsur ini selalu berkembang menuju kearah yang lebih baik dan sempurna secara bersama-sama yang akhirnya diharapkan mencapai keselarasan,keserasian dan keseimbangnan dalam hidupnya.

Dari dua unsur yang merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan tersebut, William Stern, seorang ahli ilmu jiwa menyebutnya sebagai suatu unitas multipleks yang artinya adalah

  • - Unitas, artinya bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu jiwa dan raga yang merupakan suatu kesatuan bulat dan utuh yang tidak dapat dipisahkan.Kegiatan jiwa baru nampak apabila diwujudkan dalam kegiatan raga.Begitu pula sebaliknya bahwa kegiatan raga itu ada karena didorong oleh jiwa.

    - Multipleks,menunjuk pengertian bahwa sebenarnya jiwa dan raga masih terdiri dari banyak unsur. Yang disebut raga terdiri dari banyak unsur misalnya :rambut,kepala, alat pencernaan,tangan, kaki dan sebagainya.Sedangkan yang disebut jiwapun terdiri dari banyak unsur,unsur-unsuir yang kita kenal adalah gejala jiwa. Ada 4 unsur gejala jiwa yaitu :

1. Gejala cipta,misalnya pengamatan,khayalan,pikiran,ingatan.

2. Gejala rasa, misalnya harga diri, rasa senang dan tidak senang,rasa akan keindahan rasa sosial dan rasa kemanusiaan.

3. Gejala karsa, misalnya cita-cita,kehendak,hawa nafsu,hasrat,refleks.

4. Gejala campuran, artinya campuran dari gejala-gejala diatas,misalnya kecerdasan,perhatian,sugesti,kelebihan dan sebagainya.

Dari masing-masing gejala jiwa dan unsur raga tersebut juga merupakan satiu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, namun mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda-beda.Tugas dan fungsinya dapat dibedakan tetapi eksistensinya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan

Hakekat manusia ditinjau dari agama, maka manusia terdiri dari makhluk duniawi dan makhluk ukhrowi.Manusia yang berkeyakinan bahwa setelah hidup didunia akan ada kehidupan lagi yaitu di alam akhirat dan akan hidup disana selamanya.Oleh karena itu selama hidup didunai manusia mengejar kebutuhan duniawi untuk memenuhi kepentingan hidup jiwa dan raganya yang sekaligus mempersiapkan diri untuk hidupnya diakhirat dalam rangka memenuhi kebutuhan jiwanya.

Menurut pendapat ahli yang lain bahwa manusia itu hakekatnya adalah makhluk yang berbudi(homo sapien), makhluk yang berakal(homo rational), makhluk yang bertuhan( homo religius), makhluk yang kreatif(homo faber), animal educadum(binatang yang dapat dididik), zon politicon(mempunyai kesadaran politik), sebagai makhluk etis( memahami kesadaran dan memahami norma-norma) dan sebagainya.Dari berbagai keterangan diatas, akhirnya kita mengerti bahwa manusia itu adalah makhluk yang monopluralis,artinya terdiri dari banyak segi tetapi mertupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan .

2. HAKEKAT PENDIDIKAN

Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa yunani, paedagogiek. Pais artinya anak, gogos artinya membimbing atau tuntunan dan iek artinya ilmu. Jadi dari segi etimologinya berarti paedagogiek adalah ilmu yang membicarakan bagaimana cara menuntun atau membimbing anak.Dalam bahasa inggris pendidikan diterjemahkan dengan education,education dalam bahasa yunani berarti educare yang berarti membawa keluar yang tersimpan didalam jiwa anak untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang.Dalam bahasa jawa pendidikan adalah panggulo wenthah yang artinya mengolah, membesarkan,mematangkan anak dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya.

Pendidikan dalam bahasa indonesia yang berati proses mendidik yang mempunyai dua hal yang saling berhubungan yaitu pendidik dan peserta didik, jadi mendidik mempunyai pengertia komunikasi dua arah. Definisi pendidikan banyak ragamnya tergantung dari sudut pandang masing-masing.Ada yang memberi definisi pendidikan dilihat dari bagaimana proses terjadinya pendidikan itu sendiri,tanpa melihat tujuan apa yang akan dicapai yang lebih bersifat deskriptif. Dilain pihak ada yang mendefinisikan pendidikan yang didasarkan pada tujuan apa yang hendak dicapai melalui proses pendidikan itu sendiri yang lebih bersifat normatif.

Berikut ini adalah beberapa contoh definisi mendidikdan pendidikan dari beberapa ahli :

1. Brubacher, dalam bukunya “Modern Philosophies of Education ” disebutkan bahwa pendidikan adalah proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam,teman dan dengan alam semesta.

2. M.J. Langeveld, mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada anak(yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri.

3. John Dewey, pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.

4. Ki Hajar Dewantoro, pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran(intelek),dan jasmani anak-anak.Maksudnya adalah supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup,yaitu kehidupan dan penghidupan anak-anak selaras dengan alamnya dan masyarakatnya.

5. Undang-undang RI no.2 Tahun 1989, pendidikan adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi perananya dimasa yang akan datang( pasal 1)

Dari beberapa definisi diatas dapat dikatakan bahwa :

1. Hakekat pendidikan adalah tuntunan /pimpinan / bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh sesorang kepada orang lain dan harus dapat merealisasikan potensi yang dimiliki oleh anak didik yang besrfat menumbuhkan serta mengembangkan baikjasmani maupun rohani

2. Hakekat pendidikan adalah proses mendidik yaitu proses interaksi yang positif antar manusia yang ditandai dengan keseimbangan antara kedaulatan peserta didik dengan kewibawaan pendidik.

3. Hakekat pendidikan adalah usaha meningkatkan kualitas kehidup baik secara pribadi maupun masyarakat.

3. EMPAT ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Masalah ini sudah lama diperdebatkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini nampak adanya beberapa teori yang mempertentangkan apakah pendidikan itu perlu atau tidak bagi manusia?. Hal ini tercermin dari lahirnya aliran-aliran pendidikan, diantaranya yang terkenal adalah 1).Empirisme, 2). Nativisme, 3). Naturalisme, 4).dan Konvergensi.

1. Aliran Empirisme

Aliran ini dipelopori oleh John Locke yang lahir tahun 1632, berpendapat bahwa ide-ide tidak dibawa sejak lahir akan tetapi muncul dari pengalaman indrawi,semua yang dipelajari didasarkan pada sensasi dan refleksi. Anak-anak belajar dan mengingat melalui ide-ide yang diasosiasikan yang berasal dari sensasi,ditirukan dengan pemahaman,ide-ide yang memberikan keberhasilan,kenikmatan dan kesenangan.

Locke membuat suatu perbedaan yang tajam antara pendidikan dan yang semata-mata diperoleh(melalui asosiasi) dari informasi verbal untuk diingan dan diceritakan.Ia menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan semua potensi yang terdapat pada anak baikjasmani dan roani,yang diperlukan supaya mereka sehat, berbudi, dan berhasil dalam kehidupannya.

Gagasan John Locke ini dimuat dalam bukuya Essay Concerning Human Understanding”, inti dari buku ini adalah tentang asal,kepastian, dan banyaknya pengetahuan manusia. Jiwa ini waktu dilahirkan masih putih bersih sebagaimana meja lilin(tabula rasae). Guru atau orang tua paling menentukan hasil pendidikan. Pendidikan dibentuk oleh pengalaman, bukan tergantung dari dasar. Dengan demikian ,ajar merupakan penentu akan menjadi apa anak kelak.Teori mendapat dukungan dari golongan behaviorisme yang dipelopori oleh Pavlov(Rusia) dan Watson(Amerika) bahkan Watson sanggup menjamin orang tua menginginkan jadi apa anaknya seniman,negarawan,usahawan,dokter,guru,ahli teknik,sastrawan,peneliti, bahkan perampok sekalipun, karena aliran ini mengabaikan bakat dan potensi-potensi yang dibawa sianaksejak lahir.

2. Aliran Nativisme

Aliran ini dipelopori oleh Arthur Schopenhouer (1788-1860) dan juga dianut oleh Prof. Heymans, secara etimologis nativis berarti pembawaan. Menurut teori ini pendidikan itu tidak perlu karena pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan manusia. Manusia lahir sudah dengan pembawaannya yang sama sekali tidak dapat diubah oleh pendidikan , bahkan dapat merusak perkembangan anak secara natural. Jadi anak hendaknya diberi kebebasan untuk tumbuh dan berkembang secara kodrati sebab secara kodrat anak adalah baik.

Aliran ini berpandangan, sekalipun diperukan pendidikan tetapi pendidikan yang bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan potensi yang dibawa sejak lahir. Dengan kata lain, pendidikan tidak dimaksudkan untuk merubah karena memang dianggap tidak kuasa untuk merubah. Aliran ini bersifat pesimistik karena melihat sesuatu dengan kacamata hitam.

Aliran ini kurang populer untuk pengembangan konsep pendidikan , karena sesuai dengan sifat dasar pendidikan yakni merubah. Jika pembawaan lebih berperan berarti usaha pendidikan sia-sia.

3. Aliran Naturalisme

Aliran ini hampir sama dengan aliran nativisme, aliran naturalisme dipelopori oleh Jean Jecques Rousseau (1712-1778) yang bersemboyan kembali ke alam “ back to basic ” dalam satu bukunya yang berjudul “emile ia berkata pada dasar manusia itu baik maka biarkanlah berkembang sesuai perkembangan alamnya..Jangan dididik seperti orang dewasa menurut ukuran ukuran orang dewasa.

Rousseau membagi rentang kehidupan individu menjadi 5 periode pertumbuhan. Periode pertama ialah masa bayi dan kanak-kanak( 0tahun-5tahun) periode ini jangan ada campur tangan orang dewasa terhadap dorongan dan tingkah laku alamiah anak, kedua usia 5 – 12 tahun, periode ini ditekankan pada latihan indra dan fisik melalui pengalaman, ketiga usia 12 – 15 tahun periode ini biarkanlan anak mencari dan menemukan untuk dirinya hukum alam dan ilmu pengetahuannya, keempat usia 15 – 20 tahun pada periode ini bawalah anak menjalani pengalaman-pengalaman sosial,moral dan fisik yang penting dan periode kelima adalah usia diatas 20 tahun,arahkanlah manusia dewasa awal ini pada pemilihan teman hidup yang cocok.

4. Aliran Konvergensi

Dipelopori oleh William Stern(1871 – 1938) seorang filsuf jerman yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh dan hasil perpaduan antara faktor bakat/pembawaan dan faktor alam sekitarnya. Faktor pembawaan atau potensi yang dibawa sejak lahir dapat berkembang apabila diberi rangsangan dari luar yang berupa pendidikan. Aliran ini didukung oleh Woodwarth dan Maqueis, termasuk di Indonesia berkembang aliran ini yang dipelopori Ki Hajar Dewantoro dengan “Taman Siswa” nya dan dikembangkan melalui prinsip trikon, yaitu konsentris,kontinuitas dan konvergen. Trikon ini menunjuk kepada pengaruh lingkungan dan pertemuan dari unsur-unsur anak dengan lingkungan yang sesuai dengan pertumbuhannya secara terus menerus.

4. MENGAPA MANUSIA HARUS DIDIDIK ?

Bertolah dari aliran konvergensi inilah saya mencoba menganalisa dan memberi jawab mengapa manusia perlu mendapatkan pendidikan dan mengapa manusia harus dapat mendidik ?

Seperti telah diuraikan diatas bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah animal educable (binatang yang dapat dididik) ,animal educandum (binatang yang harus dididik) dan homo educandus( makhluk yang dapat mendidik) . Dari hakekat ini jelas bahwa pendidikan itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia. Oleh karena itu mengapa manusia perlu dididik maka dapat ditinjau dari berbagai aspek.

Pada waktu kehidupan permulaan(bayi/anak-anak), mula-mula yang paling berperan adalah dari segi fisik, kemudian secara berangsur-angsur segi rohani berganti memegang peranan penting. Perkembang fisik indifidu ditentukan oleh dua faktor yaitu maturation (kematangan) dan learning (belajar). Seorang anak akan dapat berjalan jika memiliki tulang-tulang kaki dan otot yang cukup kuat disertai dorongan untuk berjalan adalah faktor kematangan. Tetapi kematangan itu sendiri belum cukup untuk memiliki kemampuan untuk berjalan, ia harus belajar terus dan dibantu oleh orang lain.

Ditinjau dari sisi lain hakekat manusia adalah sebagai makhluk indifidu dan sosial makhluk dunia dan akhirat, terdiri dari unsur jiwa dan raga yang diciptakan oleh tuhan lewat hubungan orang tua untuk hiduh bersama secara sah lewat pernikahan, karena itu secara kodrat orang tua harus mendidik anak-anaknya secara bertanggung jawab.Orang tua tidak cukup hanya memberikan makan minum pakaian kepada anaknya,tetapi harus berusaha bagaimana agar anaknya menjadi pandai,bahagia berguna bagi masyarakat bangsa dan negara.

Pada hakekatnya usaha-usaha yang dlakukan dalam pendidikan memang tertuju pada masalah keseimbangan keselarasan dan keserasian perkembangan kepribadian dan kemampuan manusia.Emmanuel Kant mengatakan bahwa “ manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”. Prof. Dr.N. Driyarkoro memberi istilahhominisasi ke humanisasi “ (memanusiakan manusia). Jadi jika manusia itu tidak dididik maka tidak akan menjadi manusia yang sebenarnya.

Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan faktordari luar, Faktor dari dalam meliputi semua potensi yang dibawa sejak lahir, potensi ini tetap terpendam apabila tidak dikembangkan melalui pendidikan,inipun juga tergantung dari kemauan(aktivitet). Jadi pendidikan fungsinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut. Faktor dari luar yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia yaitu lingkungan alam.Artinya lingkungan anak dengan anak ,anak dengan orang dewasa, orang dewasa dengan orang dewasa yang saling berinteraksi.Lingkungan budaya berupa sopan santun,TV,majalah, dll.serta lingkungan alam secara geografisnya, namun karena perkembangan iptek pengaruh lingkungan alam dapat diatasi.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hakekat manusia dan hakekat pendidikan,kiranya cukup jelas dalam memberikan alasan mengapa manusia perlu dididik dan mendidik, pendidikan harus dapat mengembangkan semua potensi yang ada pada manusia.Baik perkembangan cipta,rasa, karsa, ketrampilan, jasmani dan rohani, moral maupun ketuhanan. Dan didukung oleh lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan sianak menuju kedewasaannya. (by.ZAINUDIN RIFAI,TP.2008).

DAFTAR PUSTAKA

Ekosusilo, M dan Kasihadi, R.B. 1993. Dasar-dasar pendidikan, Semarang.

Effhar Publishing.

Hasbullah,2006. Dasar-dasar ilmu pendidikan, Jakarta. PT Raja Grafindo Persada

Hidayanto, D.N. 2007. Pemikiran pendidikan dari filsafat ke ruang kelas . Jakarta : Transwacana.

1 komentar:

Nila Kartika Dewi mengatakan...

makasih kak ilmunya :D